Wish You were Here [to: D, cc: Everyone]

"How I wish, how I wish you were here.
We’re just two lost souls swimming in a fish bowl,
year after year,
Running over the same old ground.
What have you found? The same old fears.
Wish you were here."

Quotasi di atas adalah penggalan (atau keseluruhan?) dari 2nd verse lagu Wish You were Here, salah satu lagu yang dirilis Pink Floyd di album Wish You Were Here pada tahun 1975. Menurut wikipedia (lagi-lagi..), lagu ini merupakan sublimasi dari perasaan teralienasi dan skeptisme penulisnya, Roger Waters, terhadap kehidupan dan pemikiran orang lain. Meskipun secara keseluruhan, lagu ini lebih mirip tentang kesedihan akan kehilangan seseorang yang berharga, but the song have some more metaphoric meaning that hiding in it’s deep lyrics. Sedih ya sedih, tapi itu bukan alasan untuk lalu mengeksploitasi barisan lirik menjadi rengekan cengeng dan depresif. Kisahnya memang tragis, namun tersaji dalam melodi yang indah. Melodi yang dibawakan secara khas oleh David Gilmour pada kedalaman bahasa yang berbicara dalam kesunyian. Sometimes the silence is the only sound[1].

Ironisasi yang tertuang dalam melodi, mengangkat dan mengeksploitasi tema sepi, seolah menjelaskan bahwa kehidupan tak pernah jauh dari rasa kesepian, bahwa waktu memang dijalani dalam kesendirian karena setiap manusia dilahirkan dalam fitrah kesendirian[2]. Hanya saja, (mungkin) seperti dualisme Hegel, dibalik sepi tersimpan reaksi terhadap sepi, yang dalam konteks Wish You were Here sepi tak lalu terhenti dalam kondisi depresi dan berdiam diri. Di dalamnya tersimpan pengharapan, how I wish, how I wish you were here..

Sedih adalah sesuatu yang wajar, begitu juga dengan kesepian. Keduanya merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Meratap memang lumrah pada awalnya, namun lama-kelamaan ketika sesuatu menjadi hal yang biasa maka meratap menjadi hilang makna. Untuk apa meratapi sesuatu yang niscaya?

Setiap dari kita pernah kehilangan, itu pasti. Yang lalu mengarahkan setiap pertahanan diri dalam kesadaran yang kita miliki untuk terus berusaha agar tak kehilangan lagi dan lagi. Walaupun kita sadar bahwa setiap pertemuan akan menemui perpisahan. Setiap natal menemui mortal. Setiap awal lambat laun akan menemui akhir. Perlawanan itu seolah begitu saja terjadi. Apakah berontak dan meratap adalah salah satu solusi? Memang, namun dalam ketidakmampuan melawan kepastian kita mesti menyadari kepastian yang lain: tak semuanya harus dihadapi dengan tangisan.

Berdamai dengan air mata, mungkin mudah diucapkan namun tak setiap orang mampu melakukannya. Mungkin kita terbiasa melawan tangis dengan tawa, mencari tawa, menertawakan tawa. Namun tak setiap senyuman pun tawa mampu menyembunyikan apa yang sebenarnya ada. Makna apa yang dibaliknya, apakah setiap gelak dan tarikan nafas mampu mengusir getirnya? Kesepian akankah lalu hilang tak berbekas? Dalam senyuman tersimpan makna, kadang tak perlu menebak untuk mengetahui apa artinya. What you’ve just found are the same old fear. From the silent old fear, by the silent old fear, to the silent old fear[3]. Tawa tak pernah membawa kita ke mana-mana.

Dalam keniscayaan kesendirian semuanya jadi terasa begitu wajar. Perpisahan, pertemuan, kesedihan, senyuman, harapan, keinginan, tak tercapainya sesuatu. Terlalu meratapinya, euforia bahagia, seolah serupa dengan kepercumaan. Karena toh kita akan menghadapinya lagi, lagi, dan lagi. Semua hanya tergantung ‘kapan’, dan itu pasti.

Dan makna pengharapan dalam wish you were here jadi terasa begitu dalam. Menjadi seseorang yang melunasi pengharapan adalah obat termanjur untuk menyembuhkan sebuah harapan. Kekosongan memang seharusnya terisi dengan berbagi. Karena meskipun tertitah untuk hidup dalam sendiri, kita tak pernah merasa hidup jika benar-benar menjalani hidup dalam sendiri.

*tulisan ini terinspirasi oleh glitter yang bertuliskan "Wish You were Here" dalam profile seorang teman.

DownloadThisSong:

Wish You were Here | Pink Floyd [d]

——————————

Catatan Kaki:

[1] Menyadur lirik Nickel Creek dalam lagu Hanging by a Thread.
[2] Mengadopsi tulisan Rama Wirawan a.k.a Jaka Muda dalam "Kesepian", Dalam Diam.
[3] Mengadopsi lirik Pain of Salvation dalam lagu Animæ Partus.

Leave a Reply