Paradox of Life

April 17th, 2008 by ahirunoko

Today we have bigger houses and smaller families; more conveniences, but less time;
We have more degrees, but less common sense; more knowledge, but less judgement;
We have more experts, but more problems; more medicine, but less wellness.
We spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get to angry too quickly, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too often, and pray too seldom.
We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too little and lie too often.
We’ve learned how to make a living, but not a life; we’ve added years to life, not life to years.
We have taller buildings, but shorter tempers; wider freeways, but narrower viewpoints.
We spend more, but have less; we buy more, but enjoy it less.
We’ve been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet the new neighbor.
We’ve conquered outer space, but not inner space. We’ve split the atom, but not our prejudice;
we write more, but learn less; plan more, but accomplish less.
We’ve learned to rush, but not to wait; we have higher incomes, but lower morals.
We build more computers to hold more information, to produce more copies, but have less communication. We are long in quantity, but short in quality.
These are the times of fast foods and slow digestion; tall men and short character; steep profits and shallow relationships.
More leisure and less fun; more kinds of food, but less nutrition; two incomes, but more divorce; fancier houses, but broken homes.
That’s why I propose, that as of today, you do not keep anything for a special occasion, because every day that you live is a special occasion.
Search for knowledge, read more, sit on your front porch and admire the view without paying attention to your needs.
Spend more time with your family and friends, eat your favorite foods, and visit the places you love.
Life is a chain of moment of enjoyment, not only about survival.
Use your crystal goblets. Do not save your best perfume, and use it every time you feel you want it.
Remove from your vocabulary phrases like “one of these days” and “someday”. Let’s write that letter we thought of writing “one of these days.
Let’s tell our families and friends how much we love them. Do not delay anything that adds laughter and joy to your life.
Every day, every hour, and every minute is special. And you don’t know if it will be your last.
With this message goes my sincerest wishes for your happiness.

Wah Wah Wah

April 8th, 2008 by ahirunoko

********************************************************************
WAHYU ADI PRAMARDIKA
Aksara depan Wa
Aksara belakang Ka
Kamis Wage, 15 Agustus 1985
28 Dulkangidah 1917 Tahun JIMAWAL Windu SANGARA
28 Zulkaidah 1405H
Laki-Laki
Neptu 12
Wuku SUNGSANG
Pangarasan Aras Kembang
Pancasuda Tunggak Semi
Dina Dina Pari
Lintang 12 Lintang Kut (Kuda)
Pranotomongso KARO ( 3 Agustus - 25 Agustus )
Bintang LEO ( 22 Juli - 21 Agustus )
********************************************************************

SIFAT-SIFAT YANG MENONJOL

  • Tekun, rajin, giat, banyak bekerja (tidak suka berdiam diri/menganggur/berpangku tangan), seorang pekerja keras.  Walaupun kadang-kadang mempunyai sifat pemalas, kurang tekun, kurang rajin, kurang giat, suka meninggalkan pekerjaan, suka menumpuk-numpuk tugas, suka menunda-nunda pekerjaan, kalau bekerja sering tidak tuntas [+++]
  • Mudah tersinggung/emosi, peka perasaannya [+++]
  • Pantang mundur/tidak kenal menyerah/putus asa, keras hati [+++]
  • Tinggi hati/sombong/suka mengagung-agungkan kemampuannya/suka berlagak/suka berbangga diri/pamer [++]
  • Pemberani/tak gentar menghadapi tantangan/bukan seorang penakut, nyalinya besar [++]
  • Kalau marah cepat reda.  Walaupun kadang-kadang mempunyai sifat kalau marah berbahaya, suka merusak ataupun susah redanya, mudah kalap [++]
  • Jujur [++]
  • Tidak ikhlas/jika menolong suka mengharap balasan atau imbalan [++]
  • Pemboros/peroyal/tidak pandai mengatur keuangan [++]
  • Perangainya buruk/brangasan/brutal/kasar [++]
  • Mudah lupa diri/khilaf [++]
  • Optimis/bersemangat [++]
  • Setia/punya loyalitas [++]
  • Tak mau kalah & dikalahkan, ingin menangnya sendiri, selalu ingin dikasih lebih [++]
  • Suka menolong/membantu, mudah dimintai bantuan, ringan tangan  [++]
  • Iri hati terhadap keberuntungan orang lain [++]
  • Ingin diperhatikan [++]
  • Seorang yang pintar [++]

SIFAT-SIFAT UMUM (KURANG BEGITU MENONJOL)

  • Menyukai kebebasan, tidak ingin terikat ataupun dikuasai, tidak suka diatur [+]
  • Nampak angker, menakutkan [+]
  • Seorang pemikir, kuat pikirannya [+]
  • Suka memperdaya/mempermainkan orang/jahil [+]
  • Berbudi luhur, luas budinya [+]
  • Terlampau besar kesanggupannya (sanggup menangani pekerjaan berat) [+]
  • Avonturisme [+]
  • Egois [+]
  • Kurang sabar.  Walaupun kadang-kadang mempunyai sifat sabar [+]
  • Suka benda-benda yang aneh/antik/benda sejarah, suka akan hal-hal yang menakjubkan [+]
  • Berwibawa/punya kepribadian yang berpengaruh, banyak orang yang segan/hormat [+]
  • Seganan/terlalu sungkan/ewuh-pakewuh [+]
  • Angkuh [+]
  • Tidak suka mementingkan diri sendiri [+]
  • Suka mengharapkan sanjungan/pujian [+]
  • Perasaannya halus/berjiwa halus/lembut, tidak suka ataupun segan terhadap hal-hal yang berbau kekerasan [+]
  • Mudah dirayu [+]
  • Penyendiri (suka sendirian), suka sepi/kesunyian, tidak suka berkumpul dengan banyak orang [+]
  • Terbuka, terus terang [+]
  • Bertanggungjawab [+]
  • Bukan tipe pendiam (banyak tingkah), cerewet & banyak bicara [+]
  • Berani/rela berkorban [+]
  • Percaya diri besar, pikirannya mantap [+]
  • Solidaritasnya tinggi [+]
  • Tegas [+]
  • Banyak yang takut pada omongannya [+]
  • Tidak suka curiga/mudah mempercayai [+]
  • Banyak akal, kreatif, cerdik [+]
  • Gegabah/sembrono/ceroboh/kurang perhitungan [+]
  • Pengkhayal, pelamun [+]
  • Senang menuruti apa yang diinginkannya, suka seenaknya sendiri [+]
  • Ambisius, cita-citanya tinggi, ingin menjangkau sesuatu walaupun diluar kemampuannya, suka berpikir yang muluk-muluk [+]
  • Baik hati, mulia, kesucian [+]
  • Pandai menghargai, hormat pada siapa saja [+]
  • Kurang serius dalam menghadapi masalah, sering bersikap bodoh dalam menghadapi sesuatu [+]
  • Pengertian [+]
  • Cinta kedamaian, tidak suka permusuhan, menyukai kerukunan dan menginginkan hidup tenteram [+]
  • Disukai/disenangi kawan (banyak orang menyukai/mengasihi), serta banyak teman dan sahabatnya [+]
  • Mudah puas, suka menerima apa adanya [+]
  • Suka kebesaran, suka kekuasaan, suka hal-hal mengenai sesuatu agar melebihi orang lain [+]
  • Besar keinginannya/kemauannya [+]
  • Kurang simpatik [+]
  • Pandai mencari sandang pangan [+]
  • Pemaaf, mudah melupakan peristiwa yang menyakitkan hati [+]
  • Menyukai pekerjaan yang halal [+]
  • Bijaksana [+]

A S M A R A

  • Ingin agar selalu diperhatikan [++]
  • Memiliki daya tarik/pesona yang memikat lawan jenisnya [++]
  • Tidak suka dikalahkan oleh pasangannya untuk urusan asmara [+]
  • Penuh perhatian dan akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginan pasangannya, ingin selalu memberi yang terbaik untuk orang yang dicintainya, pandai memahami kemauan (tahu/ngerti) terhadap pasangannya [+]
  • Berbahagia dengan perkawinannya [+]
  • Bertanggung jawab pada keluarga, selalu memikirkan dan mencintai keluarganya [+]
  • Suka berbuat menyimpang/serong [+]
  • Mata keranjang [+]
  • Menyukai kawin [+]

R E J E K I

  • Rejekinya lancar, menyenangkan, panjang dan mudah dicari. Tidak kurang sandang pangannya [++++++]

______________________________________________

hohohoho, nemu program yang menawarkan fungsi deteksi kepribadian berdasarkan primbon jawa dan horoskop. alhasil setelah saya mencoba mengisi data diri saya yang keluar adalah data seperti di atas.. hasilnya lumayan, kira-kira 80% mirip dengan kenyataan. tapi ya percaya-nggak percaya sih.. kalo mo nyoba n buktiin sendiri ya silakan.. bdw ada ramal jodohnya juga looooohh…. hahahahaha.. (jane programe kiy ra penting banget, tapi kok tak tulis yo? lha embuh)
 

kalo mo download programnya :P [d]

Idang Rasjidi

April 4th, 2008 by ahirunoko

Pentas jazz, denting bilah piano, dan jiwa entertainer. Jika kita mencari siapa musisi Indonesia yang dapat memenuhi ketiga kata kunci diatas, tentu kata mufakat akan dicapai pada sosok tambun bernama Idang Rasjidi.

Pria kelahiran 26 April 1958 silam di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka ini memang besar di pentas jazz, baik lokal maupun internasional. Awal karir Idang muda bermain musik dibuka ketika ia berkenalan dengan Abadi
Soesman
yang mengajaknya bergabung di sebuah acara paket anak-anak
di TVRI. Kala itu ia tidak bermain piano, tapi sebagai pemain bass. Kemudian
Idang dipercaya untuk mengisi keyboard di kelompok musik Abadi
Soesman Band
. Sejak itulah nama Idang Rasjidi mulai
dikenal sebagi seorang pianis yang memiliki warna jazz.

Kemahirannya bermain piano memang unik. Idang dapat memainkan paino sebagai
suara satu dan dengan vokalnya sendiri sebagai suara dua menirukan suara
dari berbagai alat musik. Bunyi trumpet, trombone dan perkusi kerap ia
senandungkan mengimbangi kelincahan jemarinya bermain di atas bilah piano.
Jurus yang kerap menjadi senjata pamungkasnya itu dipelajari secara otodidak.
Dasar piano memang didapat dari Ny.Kardana, guru pianonya
yang pertama. Sedangkan pengembangannya ia dapat dengan belajar sendiri.
Musik jazz menarik perhatiannya karena keterpengaruhannya dari lingkungan
keluarga. Orang tua Idang sering memutar piringan hitam musik jazz. Alunan
jazz beragam era menempel kuat pada ingatan Idang kecil, meski pada awalnya
ia merasa dicekoki. Peran orang tua itu juga yang kini diterapkan Idang
mendidik anak-anaknya bermusik. Terbukti, beberapa putranya telah mencoba
membentuk sebuah band jazz dengan susupan aroma funk dan rap dalam aransemennya.

Kembali pada kelihaian Idang berpiano, wawasan bermusik dan entertainment
Idang muda semakin terasah takala ia berinteraksi dengan seniornya. Bersama
Ireng dan Kiboud Maulana, Idang bergabung dalam wadah Ireng Maulana
Associate
yang juga menyertakan saxoponist Udin Syah.
Lalu Idang juga banyak menimba pengalaman bersama Maryono (saxophone),
Benny Mustapha (drum), Oele Pattisellano (gitar), Benny Likumahuwa (Trombone), Dullah Suweileh
(perkusi), Jeffry Tahalele (bass) ketika mereka
membentuk band pentas bernama The Galatic. Selain bersama
para senior, Idang juga bermusik dengan rekan-rekan musisi seangkatannya.

Bersama Indra Lesmana (Piano), ia membentuk Indra
Lesmana - Idang Rasjidi Reformation Jazz.
Kemudian bersama Chandra
Darusman
(piano), Jopie Item dan Hari
Subardja
(keduanya pada gitar), Uce Hariono (drum),
Tito Sumarsono (bass), Idang terlibat dalam rekaman Tika
Bisono
dan Denny Hatami (Vokalis Pahama
        Grup
).

Perjalanan karis bermusik Idang Rasjidi tidak berhenti disana. Akan masih
panjang urutan bila ingin mencatat semua band pentas yang telah dibentuknya.
Namun entah mengapa tidak banyak yang terdokumentasi dalam bentuk rekaman. Sebut saja The Djakarta All Star sebagai contoh. The
Djakarta All Star yang terdiri dari enam musisi jazz Indonesia dipimpin
oleh Kiboud Maulana ini dibentuk untuk mengembangkan
kekayaan budaya musik Indonesia dalam suatu bentuk alunan jazz yang unik.
Keunikan tersebut dapat disimak pada komposisi mereka yang berinterprestasi
funk dengan beranjak dari fusi musik bercirikan Indonesia. Satu gagasan
yang ideal. Anggota grup lainnya terdiri dari Idang sendiri pada keyboards, Embong Rahardjo (saxophone), Cendy Luntungan
(drum), Jeffry, dan Adjie Rao (perkusionist
asal Bandung). Sejatinya, jam terbang grup ini sudah sangat tinggi, Banyak
pentas internasional sudah mereka singgahi. Sedikitnya The Djakarta All
Star telah empat kali tampil di arena North Sea Jazz Festival, Belanda.
Namun disayangkan, album pertama yang sudah disiapkan sejak tahun 1993
sampai kini tidak juga rampung. Pengalaman yang sama juga terjadi pada
Trigonia. Grup latin fusion jazz ini dibentuk Idang bersama
Cendy dan Yance Manusama (bass. pada satu waktu perjalanan
grup ini posisi bass juga pernah diisi oleh Bintang Indrianto). Trio ini tidak kalah saktinya dengan The Djakarta All Star dalam mengumpulkan
massa. Mereka juga telah beberapa kali melala ke North Sea dan bahkan
pernah melakukan konser tunggal di Malaysia. Komposisi-komposisi original
Trigonia sudah kadung akrab di telinga penikmat jazz. Kembali disayangkan
aksi mereka itu tidak berhasil terdokumentasi sampai hari ini.

Penikmat musik jazz dan penggemar Idang Rasjidi sepertinya masih harus
bersabar untuk dapat menikmati kelincahan permainan piano dan komposisi
ciptaannya dalam bentuk sebuah album rekaman. Satu solo album Idang
Rasjidi
yang berjudul Heaven and Earth, kabarnya pernah
dirilis di tahun 1996-an. Namun peredarannya sangat terbatas pada kalangan
tertentu saja. Selain rekaman itu, penggemar umum harus puas menyimak permainan
Idang ketika ia membantu album musisi lain. Sebut saja di album Tika
Bisono
dan Denny Hatami tadi, dimana Idang mengisi keyboards di tujuh lagu. Lalu nama Idang Rasjidi juga dapat ditemui
pada album-album yang diproduseri oleh bassist Bintang Indrianto.
Tengok saja. Solo piano pada album Jazzy Bass; accoustic piano,
scat voices, dan upright bass (dengan menggunakan keyboard tentunya) di
album Jazzy Duet; dan keseluruhan keyboards serta piano di album
Jazzy Christmas Margie Segers. Kerja sama ini kabarnya berlanjut
dengan pembuatan album Idang sendiri yang rencananya bertitle Jazzy
Piano
. Semoga tidak ada aral yang merintangi rilis album itu.

Pentas Jazz dan piano sudah menjadi sebagian dari sosok Idang Rasjidi.
Bahkan merupakan bahagian terbesar jika kita hanya melihat dari sisi bagian
bermusik. Tapi dua hal itu belumlah lengkap tanpa menyertakan kemampuannya
sebagai seorang entertainer. Seperti halnya Bill Saragih,
kemampuan Idang Rasjidi menghibur dan mebawa emosi penonton layak mendapat
acungan dua jempol. Ketika ia memainkan musiknya, scat dan voices menirukan
berbagai bunyi instrumen tidak pernah lewat menjala applaus penonton.
Ketika musik sedang break, Idang pun rajin menyapa dan mendekatkan
dirinya pada penonton. Motonya bermusik selalu ia terapkan: "My
music is myself and myself is the way I play music."
. Sejatinya,
kekonsistenan Idang menerapkan faktor ketiga ini membuat namanya memiliki
reputasi berkelas internasional. (WartaJazz.com)

downloadableSONGS

  1. Let Give Shalawat a Swing [d]
  2. Muhammad Miracles [d]
  3. Remember God Always [d]
  4. Rhythm of Endearment [d]
  5. Tears of Knowing You [d]
  6. the Beautiful Honesty [d]
  7. the Day the World Went Away [d]

At the Drive-In

April 2nd, 2008 by ahirunoko

Backgound information:At_the_drive_in

Origin:
El Paso, Texas

Genre(s):
Post-hardcore
Alternative rock
Punk rock
Melodic hardcore

Years active:
1993–2001

Label(s):
Fearless Records

Associated acts:
The Mars Volta
Sparta
De Facto
Dios Kilos

Former members:
Cedric Bixler-Zavala
Jim Ward
Omar Rodríguez-López
Paul Hinojos
Tony Hajjar

———————————

At the Drive-In were an American post-hardcore band from El Paso, Texas, that was active from 1993 to 2001.

During their career, At the Drive-In crafted off-kilter,
unconventional songs laced with cryptic and strongly metaphoric lyrics.
Influenced equally by music from the likes of Pink Floyd, Fugazi, Bad Brains and The Smiths,
the band was founded in 1993 by guitarist Jim Ward and vocalist Cedric
Bixler-Zavala. At the Drive-In’s first studio recording was Hell Paso (Western Breed), an EP issued in 1994.
They played their first live show on October 15, 1994 at the Loretto
High School Fair in El Paso, Texas. Much touring would quickly develop
a following as intense in loyalty as the band was on stage. The band
aggressively sought shows and publicity in its early days, even going
to the point where members pretended to be a polka chapel band in order
to obtain an appearance on a local television show called "Let’s Get
Real". This reputation for hard work, the release of perhaps their
best-known album (Relationship of Command) and their minor hit
radio single "One Armed Scissor" (which had a music video in
circulation on MTV) received positive attention in the rock press
towards the end of their career. The band’s first nationally televised
performance was on FarmClub, a now defunct television show which aired
late at night on the USA network. After that performance they also
appeared on Later with Jools Holland, Late Night With Conan O’Brien and The Late Show With David Letterman, performing their single "One Armed Scissor" on national television.

Not only notoriously energetic and wild at shows, At the Drive-In were noted by the music press for the afros of Cedric Bixler-Zavala and

Nickel Creek - This Side (2002)

March 27th, 2008 by ahirunoko

 619x600mrnickelcreekprev

 

Nickel Creek is an American acoustic music trio. Although the group’s music has roots from bluegrass, the trio describes itself as "progressive acoustic". Nickel Creek consists of three permanent members: Chris Thile (mandolin), Sara Watkins (fiddle), and her brother Sean Watkins (guitar).
The trio has always recorded and toured with a bass player, but no bass
player has ever been an official member of the band. Chris’s father
Scott Thile played bass with the group until 2000, followed by Byron
House, and Derek Jones. Mark Schatz has played bass regularly with the
group since 2003. In interviews, the band has stressed that they are not a bluegrass
band, but a band that "incorporates bluegrass into [its] music". Nickel Creek has covered songs by Radiohead, Pavement, Elliott Smith, Bob Dylan, the Jackson Five and even "Toxic" by Britney Spears.

This Side is the Grammy-winning second album by the band Nickel Creek, released in the summer of 2002. It gained some notoriety in indie rock circles due to the group’s recording of a Pavement song, Spit on a Stranger. Alison Krauss acted as a producer for the album. The
album was a major transition from their previous releases, the first
three being purely bluegrass. Although the core influence of bluegrass
remained throughout the album, many other genres were present, such as indie rock and folk rock (the band covered Spit on a Stranger by Pavement, and Should’ve Known Better by Carrie Newcomer).

As with Nickel Creek, critics responded positively to This Side. Charles Spano of All Music Guide
said that "Thile and the Watkins siblings’ originals, like the sleepy,
subtle "Speak" and the darker "Beauty and the Mess," easily outdo the
likes of folk-rockers Dave Matthews and Hootie & the Blowfish, while forging a new style to rejuvenate a genre that has always been a bit of a dark horse."

This Side entered the Billboard 200 at #18 on the chart, and at #2 on the magazine’s Top Country Albums chart. The album was soon certified gold the following year of its release by the RIAA.  The success of This Side earned the group several awards, including a Grammy Award for Best Contemporary Folk Album. The band was featured in Rolling Stone’s "Best Of 2002" edition following the release of This Side.

During the 2002 and 2003 This Side tour, Nickel Creek performed mainly as an headlining act, but also opened five shows for John Mayer in November 2002 in Upstate New York and New England,  and toured with Gillian Welch and David Rawlings earlier in the year.  In 2003, Nickel Creek appeared on Béla Fleck and the Flecktones’s album Little Worlds.

600pxthisside

DownloadableSongs:

  1. Smoothie Song (instrumental) [d]
  2. Spit on a Stranger [d]
  3. Speak [d]
  4. Hanging by a Thread [d]
  5. I Should’ve Known Better [d]
  6. This Side [d]
  7. Green and Gray [d]
  8. Seven Wonders [d]
  9. House Carpenter

    [d]

  10. Beauty and the Mess [d]
  11. Sabra Girl [d]
  12. Young [d]
  13. Brand New Sidewalk [d]

++ sangat direkomendasikan bagi anda yang suka musik akustik (dengan tema cinta-cintaan tentunya, haha)…

Wish You were Here [to: D, cc: Everyone]

March 24th, 2008 by ahirunoko

"How I wish, how I wish you were here.
We’re just two lost souls swimming in a fish bowl,
year after year,
Running over the same old ground.
What have you found? The same old fears.
Wish you were here."

Quotasi di atas adalah penggalan (atau keseluruhan?) dari 2nd verse lagu Wish You were Here, salah satu lagu yang dirilis Pink Floyd di album Wish You Were Here pada tahun 1975. Menurut wikipedia (lagi-lagi..), lagu ini merupakan sublimasi dari perasaan teralienasi dan skeptisme penulisnya, Roger Waters, terhadap kehidupan dan pemikiran orang lain. Meskipun secara keseluruhan, lagu ini lebih mirip tentang kesedihan akan kehilangan seseorang yang berharga, but the song have some more metaphoric meaning that hiding in it’s deep lyrics. Sedih ya sedih, tapi itu bukan alasan untuk lalu mengeksploitasi barisan lirik menjadi rengekan cengeng dan depresif. Kisahnya memang tragis, namun tersaji dalam melodi yang indah. Melodi yang dibawakan secara khas oleh David Gilmour pada kedalaman bahasa yang berbicara dalam kesunyian. Sometimes the silence is the only sound[1].

Ironisasi yang tertuang dalam melodi, mengangkat dan mengeksploitasi tema sepi, seolah menjelaskan bahwa kehidupan tak pernah jauh dari rasa kesepian, bahwa waktu memang dijalani dalam kesendirian karena setiap manusia dilahirkan dalam fitrah kesendirian[2]. Hanya saja, (mungkin) seperti dualisme Hegel, dibalik sepi tersimpan reaksi terhadap sepi, yang dalam konteks Wish You were Here sepi tak lalu terhenti dalam kondisi depresi dan berdiam diri. Di dalamnya tersimpan pengharapan, how I wish, how I wish you were here..

Sedih adalah sesuatu yang wajar, begitu juga dengan kesepian. Keduanya merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Meratap memang lumrah pada awalnya, namun lama-kelamaan ketika sesuatu menjadi hal yang biasa maka meratap menjadi hilang makna. Untuk apa meratapi sesuatu yang niscaya?

Setiap dari kita pernah kehilangan, itu pasti. Yang lalu mengarahkan setiap pertahanan diri dalam kesadaran yang kita miliki untuk terus berusaha agar tak kehilangan lagi dan lagi. Walaupun kita sadar bahwa setiap pertemuan akan menemui perpisahan. Setiap natal menemui mortal. Setiap awal lambat laun akan menemui akhir. Perlawanan itu seolah begitu saja terjadi. Apakah berontak dan meratap adalah salah satu solusi? Memang, namun dalam ketidakmampuan melawan kepastian kita mesti menyadari kepastian yang lain: tak semuanya harus dihadapi dengan tangisan.

Berdamai dengan air mata, mungkin mudah diucapkan namun tak setiap orang mampu melakukannya. Mungkin kita terbiasa melawan tangis dengan tawa, mencari tawa, menertawakan tawa. Namun tak setiap senyuman pun tawa mampu menyembunyikan apa yang sebenarnya ada. Makna apa yang dibaliknya, apakah setiap gelak dan tarikan nafas mampu mengusir getirnya? Kesepian akankah lalu hilang tak berbekas? Dalam senyuman tersimpan makna, kadang tak perlu menebak untuk mengetahui apa artinya. What you’ve just found are the same old fear. From the silent old fear, by the silent old fear, to the silent old fear[3]. Tawa tak pernah membawa kita ke mana-mana.

Dalam keniscayaan kesendirian semuanya jadi terasa begitu wajar. Perpisahan, pertemuan, kesedihan, senyuman, harapan, keinginan, tak tercapainya sesuatu. Terlalu meratapinya, euforia bahagia, seolah serupa dengan kepercumaan. Karena toh kita akan menghadapinya lagi, lagi, dan lagi. Semua hanya tergantung ‘kapan’, dan itu pasti.

Dan makna pengharapan dalam wish you were here jadi terasa begitu dalam. Menjadi seseorang yang melunasi pengharapan adalah obat termanjur untuk menyembuhkan sebuah harapan. Kekosongan memang seharusnya terisi dengan berbagi. Karena meskipun tertitah untuk hidup dalam sendiri, kita tak pernah merasa hidup jika benar-benar menjalani hidup dalam sendiri.

*tulisan ini terinspirasi oleh glitter yang bertuliskan "Wish You were Here" dalam profile seorang teman.

DownloadThisSong:

Wish You were Here | Pink Floyd [d]

——————————

Catatan Kaki:

[1] Menyadur lirik Nickel Creek dalam lagu Hanging by a Thread.
[2] Mengadopsi tulisan Rama Wirawan a.k.a Jaka Muda dalam "Kesepian", Dalam Diam.
[3] Mengadopsi lirik Pain of Salvation dalam lagu Animæ Partus.

Blackfield

March 14th, 2008 by ahirunoko

Background information:Avivsteven2

Origin:
England & Israel

Genre(s):
Art Rock
Progressive Rock

Years active:
2001 - present

Members:
Steven Wilson
Aviv Geffen
Seffy Efrati
Tomer Z
Eran Mitelman

Former members:
Gavin Harrison
Chris Maitland
Daniel Salomon

———————————

Blackfield is a music group, a collaboration between Porcupine Tree founder and lead singer Steven Wilson and Israeli rock singer Aviv Geffen.

Geffen, a fan of Porcupine Tree and Wilson, invited the band to play
shows in Israel in 2000. He struck up a friendship with Wilson, leading
to the two musicians recording together. Originally planned as an EP
for a 2001 release, the band’s debut album blossomed into a full-length
recording, and was released in Israel and Europe in 2004, and the
United States in 2005. In early 2004 the band debuted live on a couple
of promotional TV performances in Israel. This line-up featured drummer Chris Maitland (drummer of Porcupine Tree from 1993 to 2002), who was replaced by Tomer Zidkyahu, brother of Nir Zidkyahu (former touring member of Genesis) for a European tour that follow in the Autumn of 2004.

Apart from seven original songs, the band also covered two of
Geffen’s earlier songs ("Scars", "Cloudy Now" and "Glow" <not
recorded solo by Geffen until 2006 but performed often during his
concerts>, translated into English by Wilson), and Porcupine Tree’s
"Feel So Low", with Geffen singing the first verse in Hebrew (he had
been performing this song during his live shows).

Wilson and Geffen recently recorded a follow up album, Blackfield II,
released in February 2007 in Europe and March 2007 in the United
States. The duo is currently playing a tour of limited dates in
East-coast U.S. cities in support of the second album. In 2007, keyboardist Daniel Salomon left the band to continue his successful solo career. Salomon was replaced by Eran Mitelman, former keyboardist for popular Israeli hard rock band HaYehudim.

(from http://en.wikipedia.org/wiki/Blackfield)

downloadableALBUMS:

(2004) Blackfield

Blackfield is the debut album release by rock band Blackfield, released on the Snapper Music/Helicon labels in February, 2004 (see 2004 in music). The album was later re-released in August of the same year with an additional three-track bonus disc.

Two songs are covers in English to earlier Aviv Geffen songs in Hebrew, "Cloudy Now" (עכשיו מעונן) from 1993 and "Scars" (צלקות) from 2000.

Blackfield_1

  1. Open Mind [d]
  2. Blackfield [d]
  3. Glow [d]
  4. Scars [d]
  5. Lullaby [d]
  6. Pain [d]
  7. Summer [d]
  8. Cloudy Now [d]
  9. The Hole In Me [d]
  10. Hello [d]

++ Lyrics here

(2007) Blackfield II

Blackfield II is the second studio album by Blackfield. It was recorded in both Tel Aviv and London, and was released on February 13, 2007 in Europe and March 6, 2007 in the US.

We Put Out Records have launched a media site relating to the US release of this record.

"End of the World" is a cover of an older song in Hebrew, performed by Geffen and Berry Sakharof. Hebrew versions of "1,000 People" and "Epidemic" were included in Geffen’s album from 2006, "With the Time". A demo version of "Where Is My Love?" has been released on the bonus disc of the limited edition of Blackfield’s first album.

Bfii_1

  1. Once [d]
  2. 1000 People [d]
  3. Miss You [d]
  4. Christenings [d]
  5. This Killer [d]
  6. Epidemic [d]
  7. My Gift of Silence [d]
  8. Some Day [d]
  9. Where Is My Love? [d]
  10. End of the World [d]

++ Lyrics here